Blogger Widgets
Powered By Blogger

Kamis, 15 September 2016

LAPORAN PRAKTIKUM KULTUR JARINGAN PENGENALAN TEKNIK SUBKULTUR


LAPORAN PRAKTIKUM KULTUR JARINGAN
“PENGENALAN TEKNIK SUBKULTUR TUNAS MIKRO, UMBI MIKRO, PLB DAUN, BUKU BATANG, RUAS BATANG, DAN PLANLET”


Oleh :
                                  NAMA :  Nico Dwi Ardiyansah        
     NPM      :  E1J013079
     Shift   :  Rabu Pukul 08:00-12.00 Wib
     Coas   :  Sherly Senna Sinaga

    
     LABORATORIUM Kultur jaringaN
        JURUSAN BUDIDAYA PERTANIAN
                  FAKULTAS PERTANIAN
                        UNIVERSITAS BENGKULU
                                    2016

I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pepermin merupakan tanaman yang sebagian besar ditanam di Eropa. Tanaman ini telah digunakan untuk keperluan obat-obatan selama bertahun-tahun. Pepermin terkenal ampuh meredakan sakit perut, dan sering kali digunakan sebagai bahan utama dalam minuman hangat seperti teh. Pepermin juga merupakan obat ideal untuk menghilangkan rasa sakit kepala.Peppermint (Mentha piperita juga dikenal sebagai M. balsamea Willd. Adalah mint hibrida, persilangan antara watermint dan spearmint. Pabrik, adat ke Eropa, sekarang tersebar luas di budidaya di seluruh wilayah di dunia. Hal ini ditemukan liar kadang-kadang dengan spesies induknya.
Pepermint merupakan hasil hibridisasi (biasanya steril) dari water mint (M. aquatica ) dan spearmint (M. spicata ). Pepermint kadang ditemukan liar di Eropa Tengah dan Selatan, tetapi pertama kali untuk penggunaan manusia mungkin di Inggris,, dimana pengembangannya kemudian menyebar ke benua Eropa dan Afrika. Saat ini, Afrika Utara merupakan daerah pengembangan utama. Spesies mint yang lain, asli berasal dari Eropa dan Asia, dan beberapa diantaranya telah digunakan sejak ribuan tahun yang lalu. Jenis yang tumbuh di daerah tropis Asia selalu merupakan keturunan dari ‘ field mint ' dan oleh karenanya secara botanikal tidak berkaitan dengan pepermint Eropa, meskipun nilai kulinernya hampir sama dengan pepermint.
Peppermint biasanya hidup pada habitat lembab termasuk aliran sisi dan saluran drainase. Menjadi hibrida, biasanya steril, tidak memproduksi benih dan mereproduksi hanya vegetatif, menyebar dengan rimpang-nya. Jika ditempatkan, dapat tumbuh di mana saja, dengan beberapa pengecualian.Peppermint umumnya tumbuh terbaik dalam kondisi lembab, lokasi teduh, dan memperluas oleh stolons bawah tanah. Tunas muda diambil dari stok lama dan dibbled ke tanah sekitar 1,5 meter. Mereka tumbuh dengan cepat dan menutupi tanah dengan pelari jika permanen lembab.
Peppermint juga memiliki kandungan mentol yang tinggi. Minyak juga mengandung menton dan menthyl ester, terutama asetat menthyl. Peppermint kering biasanya memiliki 0,3-0,4% minyak atsiri yang mengandung mentol (7-48%), menthone (20-46%), menthyl asetat (3-10%), menthofuran (1-17%) dan 1,8-cineol (3-6%).

1.2 Tujuan Praktikum
mahasiswa mengetahui teknik sub kultur berbagai jenis eksplan yang sudah steril seperti tunas mikro, umbi mikro, plb, daun, buku batang, ruas batang, dan planlet.

II. TINJAUAN PUSTAKA

Mentha piperita L. Ini adalah tanaman yang dikenal sebagai peppermint, mint atau peppermint, pedas, milik keluarga Labiatae. Penggunaan obat direkomendasikan untuk pengobatan mual, kram gastro-intestinal, perut kembung, batu empedu, penyakit kuning, kecemasan, dahak dan mengusir cacing usus. Sifat obat tanaman terkait dengan minyak esensial mereka diekstrak dari daun segar (Lorenzi & Matos, 2002; Cooke et al, 2003.).   
Penyebarannya dapat seksual atau vegetatif. Namun, perkalian melalui biji adalah melelahkan. Menurut Veronese dkk. (2001) 18000 kuncup bunga dari peppermint mengandung lebih dari 2,75 juta telur yang dikembangkan hanya 6 biji yang layak. Namun, variabilitas genetik yang dihasilkan dari perkalian melalui benih dapat mengganggu penggunaan spesies ini untuk tujuan farmasi, karena variasi dalam komposisi kimia dari minyak yang diekstraksi. Selain itu, perbanyakan aseksual dari peppermint memungkinkan akumulasi jamur sistemik, infeksi bakteri dan virus yang menghalangi produksi semacam ini.   Banyak referensi aplikasi peppermint ini dalam teknik ditemukan dalam literatur (Paolicchi et al, 2002 ;. Ghanti et al, 2004;.. Sunandakumari et al, 2004;. Wang et al, 2008).
Morais (2014) melaporkan bahwa Teknik yang digunakan untuk produksi skala besar dari tanaman obat adalah kultur in vitro. Peppermint (Mentha piperita L. x) dapat disebutkan karena pentingnya farmakologi dari minyak esensial, yang digunakan pada pengobatan pencernaan dan gangguan pernapasan. Studi yang dibutuhkan untuk mengoptimalkan protokol budidaya spesies ini, terutama mengenai media kultur, untuk memastikan in vitro produksi klonal massal dan untuk memungkinkan ekstraksi masa depan minyak esensial tanaman.   Segmen nodal dari planlet yang sudah mapan in vitro digunakan sebagai eksplan dan diinokulasi pada media MS ditambah dengan 0, 2.0 dan 4.0 mg L -1 dari BAP (6-benzilaminopurin), 0, 0,5 dan 1,5 mg L -1 NAA (naphthalene acetic asam) dan 0; 0,5 dan 1,0 mg L -1 dari GA 3 (asam giberelat).
 Morais  (2014) menyimpulkan bahwa BAP meningkatkan tingkat kelangsungan hidup secara in vitro diinokulasi segmen nodal dari M. x piperita. Selain itu, kombinasi dengan GA 3 merangsang eksplan menembak. Aspek-aspek tersebut, bagaimanapun, tidak dipromosikan dengan penambahan NAA ke dalam medium kultur. Juga, hasil menunjukkan bahwa, setelah perkalian in vitro, tunas peppermint harus ditransfer ke media lain tanpa pengatur tumbuh untuk menembak perpanjangan. Konsentrasi tinggi BAP mempromosikan induksi kalus, walaupun memiliki efek menguntungkan pada organogenesis M. piperita.


III. METODE PRAKTIKUM
3.1  Bahan Dan Alat
Bahan tanam yang digunakan adalah eksplan daun mint yang sudah steril berupa planlet. Bahan digunakan meliputi spiritus, alkohol 70/96% dan aquades steril. Medium yang digunakan meliputi medium MS dengan penambahan ZPT sesuai dengan perlakuan yang telah ditetapkan oleh coas pada saat praktikum berlangsung.
Alat-alat yang digunakan yaitu peralatan gelas (Gelas Piala, Erlenmeyer, Gelas Ukur, pipet Ukur, Labu takar, Petridish, Timbangan analitik, pH meter, hot plate, autoclave, botol kultur, plastik, karet gelang, peralatan tanam, ruang kultur dan label.

3.2  Cara Kerja
1.      Mengeluarkan eksplan yang sudah steril berupa planlet, menaruh kedalam petridish steril yang sudah diisi air steril dan disemprot alkohol 96%.
2.      Memisahkan per batang dan setiap botol ditanam 1 batang lalu ditutup rapat.
3.      Penanaman dilakukan di LAC.
4.      Menyimpan botol yang sudah ditanam pada rak-rak dalam ruang kultur pada suhu sekitar 18-22oc














IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil Pengamatan
Pengamatan pertumbuhan Peppermint disajikan pada tabel 1.
Tabel 1. Data Hasil Pengamatan Tinggi Tanaman Peppermint pada hari ke 5.

Botol

Tinggi  (cm)
1
0
2
0
3
0
4
0
5
0

4.2 Pembahasan
Berdasarkan percobaan penanaman yang dilakukan bahwa sub kultur dilakukan menggunakan planlet daun mint. Pengamatan yang telah dilakukan selama 2 minggu menunjukan bahwa tidak terjadi pertumbuhan tunas ataupun akar dari peppermint yang ditanam. Hal tersebut terjadi karena bahan tanam mengalami browning atau biasa disebut pencoklatan. Penghambatan pertumbuhan biasanya sangat kuat pada beberapa spesies yang umumnya mengandung senyawa tanin atau hidroksifenol dengan konsentrasi tinggi. Pencoklatan pada jaringan muda lebih sedikit dibandingkan dengan jaringan yang tua (George dan Sherrington 1984).
Tang dan Newton (2004) juga melaporkan bahwa pencoklatan jaringan sangat menurunkan regenerasi secara in vitro dari kultur kalus pada beberapa tanaman berkayu, khususnya regenerasi tanaman melalui jalur organogenesis. Meskipun sebagian besar kultur kalus berubah menjadi coklat, ada sebagian kecil tidak mencoklat selama proses regenerasi in vitro pada Virginia pine (Pinus virginiana Mill.). Kultur kalus dari tunas pucuk Scots pine (Pinus silvestris L.) juga ditandai dengan pencoklatan secara cepat dan ketidakmampuan
beregenerasi (Laukkanen et al. 1999).
Beberapa macam tanaman khususnya tanaman tropika mempunyai kandungan senyawa fenol yang tinggi yang teroksidasi ketika sel dilukai atau terjadi senesens (George dan Sherrington 1984). Akibatnya jaringan yang diisolasi menjadi coklat atau kehitaman dan gagal tumbuh. Pencoklatan jaringan terjadi karena aktivitas enzim oksidase yang mengandung tembaga seperti polifenol oksidase dan tirosinase (Lerch 1981) yang dilepaskan atau disintesis dan tersedia pada kondisi oksidatif ketika jaringan dilukai.

V. KESIMPULAN
5.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil praktikum yang telah dilaksanakan, dapat disimpulkan bahwa :
1.      Subkultur yang dilakukan berupa tanaman peppermint mengalami browning akibat  jaringan sel yang terluka sehingga tanaman mengalami oksidasi. Pencoklatan pada peppermint disebabkan karena meningkatnya produksi senyawa fenolat yang diikuti oksidasi oleh aktivitas enzim oksidase (PPO) dan polimerasinya. Fenilalanin amonia liase (PAL) adalah salah satu enzim dalam fenilpropanoid yang sangat berpengaruh terhadap terjadinya pencoklatan. Salah satu penyebab utama pencoklatan dalam kultur in vitro adalah luka karena pemotongan pada jaringan.
























DAFTAR PUSTAKA
George, E.F. and P.D. Sherrington 1984. Plant Propagation by Tissue Culture. Hand Book and Directory of Comercial Laboratories. Eastern Press, Reading, Berks. England. p. 9-449.
Ghanti, K. et al. Regenerasi cepat Mentha piperita L. dari ujung menembak dan eksplan nodal. India Journal of Biotechnology, v.3, p.594-598, 2004.
Laukkanen, H., H. Haggman, S.K. Soppela, and A. Hohtola. 1999. Tissue browning of in vitro cultures of Scots pine: Role of peroxidase and polyphenol oxidase. Physiol. Plant. 106(3):337-343.

Lerch K. 1981. Tyrosinase kinetics: A semi-quantitative model of the mechanism of oxidation of monohydric and dihydric phenolic substrates. In Sigel, H. (Ed.). Metal Ions in Biology System. 13 Marcel Dekker Inc., New York, Basel. p. 143-186.
Lorenzi, H.; Tanaman obat MATOS, FJA di Brazil: asli dan eksotis. Nova Odessa: Plantarum, 2002. 512p.
Paolicchi, F. et al. Pengaruh clinorotation dibudidayakan in vitro pada eksplan dari Mentha  
         piperita
L.
Scientia Horticulturae, v.92, n.3-4, p.305-315, 2002.
SUNANDAKUMARI, C. et al. Cepat proliferasi ketiak tunas dan ex vitro perakaran rempah-rempah herbal, Mentha piperita L. India Journal of Biotechnology, v.3, p.108-112, 2004.
Tang, W. and R.J. Newton. 2004. Increase of polyphenol oxidase and decrease of polyamines correlate with tissue browning in Virginia pine (Pinus virginiana Mill.). Plant Sci. 167(3):621-628.
Veronese, P. et al. Bioteknologi tanaman mint perbaikan. Plant Cell, Tissue dan Organ Budaya, V.64, p.133-144, 2001.
WANG, X. et al. Sangat efisien in vitro regenerasi tunas adventif dari peppermint (Mentha piperita L. x) menggunakan eksplan ruas In Vitro Seluler & Biologi Perkembangan - Tanaman, online, 2016. Tersedia di :. <Http://www.sjziam.ac.cn /sjziam/medial/2016/08pdf/20081204-wangxiaohuan.pdf>. Akses: Juni 2016. doi 10,1007 / s11627-008-9170-x. [Link]















LAMPIRAN

Botol 1

Botol 2

Botol 3

Botol 4

Botol 5


Tidak ada komentar:

Posting Komentar