Blogger Widgets
Powered By Blogger

Kamis, 15 September 2016

LAPORAN PRAKTIKUM KULTUR JARINGAN PENGENALAN JENIS EKSPLAN


LAPORAN PRAKTIKUM KULTUR JARINGAN
“PENGENALAN JENIS EKSPLAN, TEKNIK STERILISASI DAN PENANAMAN PADA MEDIUM IN VITRO”


Oleh :
                                  NAMA :  Nico Dwi Ardiyansah        
     NPM      :  E1J013079
     Shift   :  Rabu Pukul 08:00-12.00 Wib
     Coas   :  Sherly Senna Sinaga

    
     LABORATORIUM Kultur jaringaN
        JURUSAN BUDIDAYA PERTANIAN
                  FAKULTAS PERTANIAN
                        UNIVERSITAS BENGKULU
                                    2016

I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang

Bawang putih adalah nama tanaman dari genus Allium sekaligus nama dari umbi yang dihasilkan. Umbi dari tanaman bawang putih merupakan bahan utama untuk bumbu dasar
masakan Indonesia. Bawang putih penuh dengan senyawa-senyawa sulfur, termasuk zat kimia
yang disebut alliin yang membuat bawang putih mentah terasa getir atau angur. Bawang putih
mempunyai khasiat sebagai antibiotik alami di dalam tubuh manusia (Wikipedia 2011).
Kultur jaringan merupakan salah satu teknik perbanyakan alternatif pada tanaman.
Melalui teknik ini, sel atau jaringan tanaman yang diisolasi dari bagian tanaman, seperti protoplasma, sel atau sekelompok sel, yang selanjutnya disebut eksplan, distimulasi untuk membentuk tanaman secara utuh menggunakan media dan lingkungan tumbuh yang sesuai (Parera).
Teknik kultur jaringan ini berkembang dengan landasan teori sel yang menerangkan bahwa setiap sel tanaman merupakan unit bebas yang mampu membentuk organisme baru yang sempurna atau sel-sel tanaman yang mempunyai sifat totipotensi (Suryowinoto, 1996). Teknik kultur jaringan merupakan perbanyakan tanaman secara vegetatif, alternatif yang tepat untuk mengatasi masalah kekurangan bibit bawang putih, karena dapat menghasilkan bibit dalam jumlah besar dan seragam sesuai karakter bawang putih yang diinginkan. Perbanyakan secara konvensional, jumlah bawang putih yang dihasilkan relatif sedikit.
Perbanyakan bawang putih secara in vitro yang telah dilakukan adalah dengan
menggunakan media dasar MS (Murashige dan Skoog), dengan penambahan zat pengatur tumbuh (ZPT) auksin (NAA), BAP, kinetin, 2-ip dengan konsentrasi tertentu. Namun di Laboratorium Kultur Jaringan ini tidak memiliki bahan-bahan kimia yang lengkap yang merupakan komponen penyusun media dasar MS tersebut. Untuk kekurangan tersebut perlu

1.2 Tujuan Praktikum
1. Mahasiswa mengetahui jenis eksplan yang berasal dari umbi lapis bawang putih.
2. Mahasiswa dapat melakukan teknik sterilisasi eksplan yang berasal dari umbi dan mata tunas yang paling tepat untuk mendapatkan bahan tanam yang steril.
3. Mahasiswa mengetahui teknik persiapan eksplan yang berasal dari umbi dan mata tunas secara in vitro.
4. Mahasiswa mampu menanam eksplan yang berasal dari umbi dan mata tunas pada medium in vitro.

II. TINJAUAN PUSTAKA

Bawang putih (Allium sativum)  merupakan salah satu tanaman potensial untuk  dikembangkan di Indonesia.  Permintaan dan tingkat konsumsi masyarakat yang semakin  meningkat merupakan indikasi pentingnya pengembangan teknik dan usaha budidaya  tanaman ini. Tanaman bawang putih dikenal dengan sebutan “umbi seribu manfaat”.  Hal ini  disebabkan oleh banyaknya manfaat yang dapat diperoleh dari tanaman ini.  Adanya  kandungan senyawa  Allicin yang merupakan komponen utama tanaman bawang putih  semakin meningkatkan manfaatnya sebagai bakterisida dan fungisida (Rukmana, 1995;  Palungkun dan Budiarti, 1996), dan anti kolesterol yang mencegah penyakit jantung koroner,
tekanan darah tinggi dan lain-lain (Anonim, 2009).
Geogre (1984) menemukan adanya zat  bakterisida yang ampuh yang dikenal dengan ‘Phytoncid’.  Selain itu di berbagai negara,  bawang putih digunakan sebagai obat yang dapat meningkatkan kekebalan tubuh dan  mencegah terjadinya penyempitan pembuluh darah manusia. Umumnya bawang putih dibiakkan dengan cara vegetatif dengan menggunakan umbi  (siung).  Produksi siung untuk dijadikan bahan tanam (bibit) membutuhkan waktu yang lama  dengan tingkat mutiplikasi yang rendah, sekitar 5-10 per tahun (Nagakubo  et al., 1993).   Usaha perbaikan tanaman bawang putih dengan teknik pemuliaan secara konvensional sulit  dilakukan.  Hal ini disebabkan karena bawang putih merupakan jenis tanaman yang steril.  
Beberapa permasalahan dalam budidaya tanaman secara vegetatif dapat diatasi  melalui perbanyakan  in vitro.  Dengan penggunaan teknik  in vitro bahan tanam yang  dihasilkan akan mempunyai tingkat multiplikasi yang tinggi, materi tanaman yang  berkualitas, lebih homogen, secara genetik sama dengan induknya, dapat diperoleh dalam  waktu yang relatif singkat (Bhojwani, 1990; Wilson  et al., 1998), dan sebagai upaya  pelestarian plasma nutfah (Ammirato et al., 1984).
Pada perbanyakan tanaman bawang putih secara  in vitro, bagian cakram dan  meristem-tip sangat tepat sebagai bahan tanam (Marlin, 1998).  Penggunaan media tanam  yang tepat dapat memacu dan meningkatkan regenerasi tanaman in vitro.  Penambahan agar
sebagai bahan pemadat dalam media dapat mempengaruhi proses morfogenesis yang terjadi
secara  in vitro.  Beberapa kultur tanaman dapat pula dilakukan dalam media tanpa agar  (medium cair).  Penggunaan medium cair pertumbuhan tanaman  in vitro  akan lebih cepat
(Avilla, 1996), panjang tunas dan berat kering tanaman lebih besar menjadi dua kalinya
dibandingkan tanaman pada media padat (Avilla et al., 1998). 

III. METODE PRAKTIKUM
3.1  Bahan Dan Alat
Bahan tanam yang digunakan berupa umbi bawang putih yang masih muda, fungisida dithane, bacylin, detergent, bakterisida agrept,  dan alkohol 70 dan 96%.
Alat-alat yang digunakan yaitu peralatan gelas (Gelas Piala, Erlenmeyer, Gelas Ukur, pipet Ukur, Labu takar, Petridish, Timbangan analitik, LAC,  pH meter, hot plate, autoclave, botol kultur, plastik, karet gelang, peralatan tanam, ruang kultur dan label.

3.2  Cara Kerja
1.      Mengupas umbi lapis bawang putih.
2.      Mencuci umbi dengan detergent secukupnya lalu diaduk selama 15 menit.
3.      Membilas dengan air steril sebanyak 3 kali.
4.      Mencuci umbi dengan 15 ml bacylin. Lalu diaduk selama 15 menit.
5.      Membilas dengan air steril sebanyak 3 kali.
6.      Mencuci umbi bawang dengan 30 ml baclyin lalu diaduk selama 15 menit.
7.      Mencuci umbi dengan air steril sebanyak 3 kali sampai bersih.
8.      Memasukan eksplan yang telah bersih ke dalam LAC dan memotong menjadi 4 bagian sisi (persegi)
9.      Melakukan penanamn eksplan yang telah bersih ke dalam media MS
10.  Eksplan yang telah ditanam dalam botol ditutup dengan plastik dan diikat dengan karet gelang agar rapat.











IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil Pengamatan
Pengamatan pertumbuhan tunas bawang putih disajikan pada tabel 1.
Tabel 1. Data Hasil Pengamatan tunas bawang putih pada hari ke 5.

Botol

Panjang tunas  (cm)
1
1

2
4

3
2

4
1

5
0


Grafik 1. Pengamatan tunas bawang putih pada hari kelima
4.2 Pembahasan
Berdasarkan percobaan penanaman yang dilakukan menunjukan bahwa pertumbuhan tunas pada hari ke 5 memiliki panjang yang berbeda-beda namun mengalami petumbuhan yang signifikan. Pada botol pertama dan keempat, tunas memiliki panjang sekitar 1 cm. Pada botol kedua memiliki panjan tunas sekitar 4 cm. Pada botol ketiga tanaman memiliki panjang tunas sekitar 2 cm dan pada botol kelima tanaman belum mengalami pertumbuhan namun sudah terlihat mata tunas yang mulai muncul eksplan umbi bawang putih.
Berdasarkan pengamatan yang telah dilakukan pada hari kelima, belum terdapat tanda-tanda kontaminasi dari jamur ataupun bakteri sehingga pengamatan masih dapat dilanjutkan pada beberapa hari kedepanya. Bawang putih umumnya memiliki tingkat kontaminasi yang rendah sebab bawang putih memiliki lapisan kulit yang cukup tebal sehingga bakteri dan jamur sulit menembus bagian umbinya. Berbeda dengan kentang dan jahe yang memilki lapisan kulit yang cukup tipis.























V. KESIMPULAN
5.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil praktikum yang telah dilaksanakan, dapat disimpulkan bahwa :
1.      Sterilisasi dilakukan pada 2 taraf konsentrasi bacylin yaitu 15 ml dan 30 ml. Sterilisasi bahan tanam dilakukan dengan cara mencuci bahan tanam dengan detergent dan bacylin dan membilasnya dengan air steril.
2.      Penanaman umbi awalnya dilakukan dengan cara memotomg umbi dari 4 sisi sehingga membentuk persegi lalu ditanam diatas media MS dan ditutup rapat agar tidak ada mikroorganisme yang masuk kedalam botol.
3.      Pengamatan dilakukan pada hari ke lima pada saat praktikum berlangsung. Dari lima botol yang ditanam, belum terdapat adanya tanda-tanda terkontaminasi jamur atau bakteri sehingga masih dapat dilakukan pengamatan beberapa hari kedepanya.






















DAFTAR PUSTAKA

Ammirato, P.V.  1984.  Induction, Maintenance, and Manipulation of Development in
Embryogenic Suspension Cultures.  In: Cell Culture and Somatic Cell Genetics, Vol.
1.  I.K. Vasil (ed.).  Academic Press.  New York.

Anonim.  2009.  Tanaman obat bawang putih dan khasiatnya.  //http:warnadunia.com/. 
Diakses tanggal 1 Juni 2016.

Avilla, A. de L., S.M. Pereyra, D.J. Collino, dan J.A. Arguello.  1994.  Effects of Nitrogen
Source on Growth and Morphogenesis of Three Micropropagated Potato Cultivars. 
Potato Res.  37; 161-168.

Avilla, A. de L., S.M. Pereyra, dan J.A. Arguello.  1998.  Nitrogen Concentartion and
Proportion of NH4+-N Affect Potato Cultivar Response in Solid and Liquid Media. 
HortScience 33(2); 336-338.
           
Bhojwani, S.S.  (ed.).  1990. Plant Tissue Culture : Applications and Limitations.  Elsevier. 
Amsterdam

George E.F. and P.D.Sherrington.  1984.  Plant Propagation by Tissue Culture.  Handbook
and Directory of Commercial laboratories.  Exegetics Ltd. England.

Marlin.  1998.  High Multiplication of Plant Regeneration of Garlic (Allium sativum L.) in  vitro.  Akta Agrosia II (2)57-60.

Parera, Dj.F. 1997. Pengaruh Tingkat Konsentrasi Air Kelapa terhadap Pertumbuhan dan
Perbanyakan Tanaman Anggrek Dendrobium sp melalui Teknik Kultur Jaringan. J.
Ilmu Pengetahuan dan Teknologi 2:57-64.

Nagakubo, T., A. Nagasawa and H. Ohkawa.  1993.  Micropropagaton of Garlic Through in
vitro Bulblet Formation.  Plant Cell Tissue, and Organ Culture 32: 175-183.

Rukmana, R.  1995.  Budidaya bawang Putih.  Kanisius.  Yogyakarta 74 hal.
Suryowinoto, M. 1996. Pemuliaan Tanaman Secara In Vitro. Peenerbit Kanisius. Yogyakarta.
Wikipedia Bahasa Indonesia. 2016. Ensiklopedia Bebas. Tersedia www. Wikipedia.com diakses 1 Juni 2016.
Wilson, S.B., K. Iwabuchi, N.C. Rajapakse and R.E. young.  1998.  Responses of Broccoli  Seedlings to Light Quality during Low Temperature Storage  In vitro. II. Sugar Content and Photosyntetic Efficiency.  HortSci.  33:1258-1261.




LAMPIRAN

Botol 1

Botol 2

Botol 3
Botol 4

Botol 5


Tidak ada komentar:

Posting Komentar