Blogger Widgets
Powered By Blogger

Kamis, 15 September 2016

Laporan Produksi Tanaman Obat dan Rempah


 LAPORAN PRODUKSI TANAMAN REMPAH DAN OBAT
ACARA III
“BUDIDAYA TANAMAN OBAT”


Oleh :
                                  NAMA :  Nico Dwi Ardiyansah       
     NPM      :  E1J013079
     Shift   :  Senin pukul 08:00-10.00 wib
     Dosen          :  Ir. Entang Inoriah,M.P.
     Coas   :  Sari
                      

                LABORATORIUM AGRONOMI
                      FAKULTAS PERTANIAN
                            UNIVERSITAS BENGKULU
                                          2016


BAB I
                                          PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang

    Saat ini kita telah memasuki era globalisasi ekonomi yang memaksa petani sebagai produsen utama produk-produk pertanian secara langsung dan tidak langsung memasuki persaingan dengan banyak produsen lain ditingkat global. Produk-produk pertanian tidak hanya bersaing dengan produk-produk pertanian luar negeri di pasar global tetapi juga di pasar domestik. Dalam pasar global terbuka suatu negara tidak boleh mengenakan proteksi dan hambatan tarif terhadap komoditi yang masuk kewilayahnya. Dalam kondisi demikian persaingan menjadi semakin sengit dan ketat, produsen kuat bersaing dengan produsen lemah, akibatnya produsen yang kalah bersaing akan semakin termarginalkan. Keadaan demikian yang sekarang sedang terjadi dengan produk-produk pertanian khususnya produk pangan buah-buahan dan sayuran. Indonesia.
     Kehidupan masyarakat adalah sebagai petani, baik itu kaum laki-laki maupun kaum ibu-ibu. Biasanya kegiatan pertanian dilaksanakan hanya dengan sampai waktu siang atau setengah hari kemudian ibu-ibu balik untuk makan siang dan istirahat tampa melakukan kegiatan sampingan setelah pulang dari kebun. Sedangkan lahan pekarangan yang kosong tidak dimamfaatkan dengan optimal, padahal ini sangat potensial bila dimamfaatkan dengan optimal dengan menanam tanaman obat-obatan yang berguna untuk keluarga dan juga bernilai ekonomis sehingga dapat dipasarkan atau dijual yang pada akhirnya tentu meningkatkan pendapatan petani sebagai pendapatan sampingan.
 Luas lahan pekarangan yang rata-rata cukup luas di sekitar rumah penduduk
ini belum termanfaatkan dengan optimal. Padahal pekarangan tersebut dapat
dimanfaatkan secara lebih optimal untuk digunakan sebagai lahan produktif.
umumnya petani berkebun kopi dan nilam ada juga yang menanam padi. Sedangkan tanaman obat-obatan seperti temu-temuan maupun herba lainnya sangat jarang diusahakan padahal ini sangat penting digalakkan untuk kebutuhan keluarga dan dikomersilkan seperti yang dijelaskan diatasDalam kondisi tersebut, saya mempunyai inisiatif dan himbauan serta ajakan kepada masyarakat untuk dapat memanfaatkan lahan perkarangan tersebut dalam bentuk kebun keluarga, kebun keluarga disini dimaksudnya adalah kebun yang terdiri dari tanaman-tanaman yang dapat dibutuhkan oleh keluarga baik yang bermanfaat sebagai rempah-rempah atau bermanfaat sebagai obat-obatan kesehatan keluarga.

1.2 Tujuan Praktikum          
Mahasiswa mampu membudidayakan berbagai jenis tanaman obat dan rempah.
BAB II
  TINJAUAN PUSTAKA

Penggunaan tumbuhan sebagai obat tradisional umumnya hanya didasarkan atas pengalaman/warisan tanpa mengetahui kandungan kimianya secara detail. Tumbuhan tersebut jika ditelaah lebih lanjut mempunyai kandungan kimia aktif biologis. Potensi bahan kimia tersebut dapat dimanfaatkan dalam bidang kesehatan, pertanian, dan industri. Penelitian dan penggunaan obat tradisional pada saat ini lebih digalakkan (Chairul dan Sulianti, 2002). Di bidang kesehatan, telah banyak tumbuhan obat yang diketahui dengan jelas struktur molekulnya dan digunakan secara global dalam pengobatan berbagai penyakit, tetapi mengingat terdapat lebih dari 250.000 spesies tumbuhan tinggi di muka bumi, maka diduga masih banyak obat baru yang dapat ditemukan dari dunia tumbuhan (Achmad, 1995).
            Salah satu zat aktif yang banyak ditemukan di alam dan juga di tumbuhan adalah glikosida. Glikosida adalah zat aktif yang termasuk dalam kelompok metabolit sekunder. Secara umum, arti penting glikosida bagi manusia adalah untuk sarana pengobatan dalam arti luas yang beberapa diantaranya adalah sebagai obat jantung, pencahar, pengiritasi lokal, analgetikum dan penurunan tegangan permukaan.
Di antara sekian banyak jenis tumbuhan obat, terdapat genus Calophyllum (Clusiaceae) yang banyak tumbuh di kawasan pantai. Genus ini terdiri dari 190 spesies, antara lain: C. inophyllum Linn. dan C. saulatri Burm F. Beberapa spesies lainnya yang juga banyak dikenal adalah: C.\ muscigerum Boerl & Kos., C. pulcherrinum Wall., C. venulasum Zoll & Mor., dan C. walichianum Planch & Triana (Backer dan Bakhuizen van den Brink, 1963; Heyne, 1987; Lemmens dan Soerianegara, 1994). Anggota Famili Clusiaceae ini umumnya mengandung resin, minyak atsiri, steroid, tannin, triterpen, dan saponin (Heyne, 1987; Govindachari et al., 1967; Burkill, 1935).  Belakangan ini ditemukan pula senyawa yang berkhasiat anti HIV (Human Immunodeficiency Virus) dari tanaman nyamplung (C.inophyllum) yaitu: inophyllum A-E, inophyllum P, inophyllum G-1, dan inophyllum G-2.
Di Indonesia tumbuhan ini telah digunakan sebagai obat tradisional, baik bagian daun, kulit batang, biji, maupun bunga. Seduhan daun dapat digunakan untuk mencuci mata yang meradang. Rebusan kulit batang digunakan untuk mengobati penyakit keputihan dan rematik. Biji digunakan untuk mengobati kudis, borok, dan penumbuh rambut. Tumbuhan ini juga dapat digunakan sebagai racun ikan (Burkill, 1935; Govindachari, 1967; Kaizu et al., 1968; Perry dan Judith, 1980; Heyne, 1987; Lemmens dan Soerianegara, 1994).



BAB III
METODOLOGI
3.1  Bahan Dan Alat
Bahan yang digunakan yaitu tanaman jahe, kunyit, temulawak, dan semua tanaman obat lain yang ditanam demi memenuhi kebun koleksi, air, dan polybeg.
Alat yang digunakan yaitu cangkul, tip x, dan gembor.

3.2  Prosedur Kerja
1.      Menyiapkan semua bahan dan alat.
2.      Membuat teras-teras pada lahan yang miring dan meletakan seresah pada pinggir bagian teras sebagai penahan air.
3.      Mengisi polybeg berukuran 40 x 40 (5 buah) atau 10 x 10 cm (10 buah) kemudian tanah dipadatkan dan dibuang lubang tanam dibagian tengah sedalam 3 cm.
4.      Memasukan bahan tanam sesuai dengan ketentuan, dapat berupa rimpang jahe, kunyit, kapulaga, atau tanaman lain yang jarang ditemukan.
5.      Polybeg yang telah diisi bahan tanam, kemudian diletakan di bagian tengah teras dan dibuat barisan.
6.      Merawat tanaman yang telah ditanam.
















BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4. 1 Hasil Pengamatan

Polybag Yang ditanami Temulawak

Polybag Yang Ditanami Kunyit
     Polybag Yang ditanami Jahe Merah
      Polybag Yang ditanami Jahe Putih
       Polybag Yang ditanami Kapulaga

4.2 Pembahasan
Berdasarkan praktikum yang telah dilaksanakan, penanaman tanaman obat dan rempah dilakukan dalam polybag dengan ukuran 40 cm x 50 cm dan ukuran 10 cm x 10 cm. Sebelum dilakukan penanaman, lahan dibersihkan terlebih dahulu dari gulma-gulma dan sampah untuk mempermudah proses peletakan polybag di sepanjang lahan. Kemudian lahan dibuat teras-teras untuk memperkecil aliran permukaan dan terjadinya erosi. Sisa-sisa gulma dan sampah diletakan dibibir atau dipinggir teras sebagai penahan air. Lahan yang telah bersih kemudian diratakan dibagian tengah lahan. Polybag yang telah disiapkan diisi dengan tanah sampai leher polybag dan dipadatkan. Penanaman dilakukan dengan cara membuat lubang tanam pada polybag dan memasukan bahan tanam meliputi kunyit, jahe merah, jahe putih, temulawak dan kapulaga.
Manfaat yang diperoleh dari penanaman kunyit adalah untuk meningkatkan produktivitas lahan pertanian yang sekaligus menambah penghasilan petani. Dari rimpang ku kunyit ini dapat diperoleh berbagai macam keperluan yaitu: minyak atsiri, penyedap makanan minuman dan obat-obatan. Tanaman kunyit mempunyai kegunaan tradisional dan social cukup luas dalam masyarakat Indonesia. Produk utama kencur adalah rimpangnya yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan obat nabati (simplisia) tradisional, untuk bahan baku industri minuman penyegar serta bumbu dapur.  Sebagai tanaman obat, kunyit memberi manfaat cukup banyak terutama rimpangnya. Rimpang kunyit berkhasiat untuk obat batuk, gatal-gatal pada tenggorokan, perut kembung, rasa mual, masuk angin, pegal-pegal, pengompresan bengkak, tetanus, penambah nafsu makan dan juga sebagai minuman segar.
            Penanaman temulawak ternyata sangat mudah ditanam karena lokasi penanaman dapat berupa lahan tegalan, perkebunan atau pekarangan. Maka kita bisa memanfaatkan lahan kecil yang tidak terpakai untuk penanaman temulawak ini. Penanaman jahe dilakukan dengan 2 jenis jahe yaitu jahe putih dan jahe merah. Jahe putih Atau sering di sebut juga jahe sunti atau jahe emprit merupakan jahe yang banyak dipakai sebagai bumbu masakan, ruasnya lebih kecil, agak rata, sedikit agak sedikit mengembung, rasa lebih pedas, seratnya tinggi dan aromanya cukup tajam. Ukuran rimpang sedang dengan warna kuning. kemudian Jahe merah memiliki Kandungan gingerol-zat antiradang dalam jahe merah lebih tinggi dibanding dua macam jahe lainnya dan rasa paling pedas, ukuran rimpangnya paling kecil dengan kulit warna merah, serat lebih besar dibandingkan dengan jahe biasa. 
Penanaman kapulaga diambil dari tunas yang masih berumur beberapa bulan. Buah kapulaga muncul dari batang semu dekat tanah, dan merayap bersama tandannya yang sepanjang 1 m, ke tanah sekitarnya. Supaya tidak kotor kecipratan tanah kalau hujan, petani pemiliknya menyelipkan lembaran plastik sebagai alas di bawah tandan buah itu.

BAB V
KESIMPULAN
5.1 Kesimpulan
Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa :
1.      Penanaman tanaman obat dan rempah dilakukan untuk memenuhi kebutuhan dan sebagai kebun koleksi tanaman. Kebun koleksi ini nantinya akan ditanami berbagai tanaman obat dan rempah yang bertujuan agar mahasiswa lebih mengenal morfologi tanaman obat dan rempah. Penanaman tanaman obat dan rempah menggunakan sistem GAP (Good Agriculture Practice) yang dilakukan dengan mengutamakan konsep berbasis lingkungan.
2.      Tanaman obat dan rempah yang ditanam  meliputi kapulaga, kunyit, jahe merah, jahe putih dan temulawak. Berbagai macam tanaman tersebut umumnya ditanam dari rimpangnya. Penanaman dilakukan di polybag dengan ukuran yang telah ditentukan. Tanaman yang ditanam dirawat secara rutin guna mempercepat proses pertumbuhannya dan dapat diperbanyak sesuai dengan kebutuhan kebun koleksi nantinya.
















                                             


DAFTAR PUSTAKA

Achmad, S.A. 1995, Peranan tumbuhan hutan tropis dalam pengembangan obat-obatan. Simposium Nasional I Tumbuhan Obat dan Aromatik. Simpul Nasional APINMAP dan UNESCO, Bogor, 10-12 Oktober 1995.
Burkill, I.H. 1935, A Dictionary of the Economic Products of the Malay Peninsula. Volume I. London: Goverments of the Straits Settlements and Federated Malat States.
Chairul dan S.B. Sulianti. 2002. Pendayagunaan sumber daya nabati (tumbuhan) dalam pelayanan kesehatan masyarakat menuju Indonesia sehat 2010. Berita IPTEK 43 (1): 71 -82.
Govindachari, R.T., N.B.R. Wiswanathan, R.R. Pai, and Srinivasan. 1967. Triterpenes of Callophyllum inophyllum Linn. London: Pergamon Press.
Kaizu, K., H. Ogihashi, and I. Mitsui. 1968. The piscicidal constituents of Calophyllum inophyllum Linn. Tetrahedrons Letters: 2383.
Lemmens, R.H.M.J. and I. Soerianegara. 1994. Plants Resources of South- East Asia. Bogor: Prosea.
Perry, L.M. and Judith. 1980. Medicinal Plants of East and South-East Asia, Cambridge: The MIT Press.







Tidak ada komentar:

Posting Komentar